Narsis versusPemimpin
Bacalah tulisan Merry Magdalena! Dengan bahasan pokok tentang kepemimpinan, ia mengikutkan sifat narsis sebagai daya tarik dari tulisannya. Tulisan sederhana itu berjudul "Kaum Narsis: Bukan Pemimpin yang Baik." Sumber-sumber ilmiah disebutkan juga sebagai penguat pandangannya.
Orang yang narsis memang cenderung untuk menonjolkan diri dengan sifat bawaan berego tinggi, mau menang sendiri dan bangga terhadap bakat serta kemampuannya sendiri tanpa sempat lagi mengindahkan keberadaan orang lain. Sebagian dari profesi yang cocok untuk tipe orang narsis adalah sebagai politisi.
Dengan sifatnya yang tidak mau mengalah maka mereka bisa merebut tempat-tempat penting di puncak pimpinan karena kepintaran mereka memikat hati sang boss, atau juga orang lain. Segala macam cara mereka lakukan khusus menampakkan kepada orang banyak bahwa hanya mereka sajalah yang pantas berkuasa dan menempati posisi penting dalam organisasi. Sayang, sifat percaya diri yang kelewat tinggi telah menyebabkan mereka samar atau tidak cermat dalam menilai kemampuannya. Alih-alih mereka mengalami banyak kegagalan sebagai pemimpin yang baik.
"Mereka suka kekuatan, kekuasaan, egois dan mampu tampil menarik dan sangat terbuka.
Masalahnya adalah mereka bukan pemimpin yang baik."
Satu hal yang bisa pelajari adalah pengaruh sifat narsis terhadap pola kepemimpinan. Motivasi dan semangat yang tinggi memiliki kedekatan sosio-linguistik terhadap sifat narsis. Namun yang menjadi pembeda dalam konteks ini adalah:
1. Narsis menjadikan seseorang berbuat lebih untuk kepentingan pribadi dan ambisinya.
2. Kepemimpinan yang baik mengarah kepada sukses bersama.
Sumber Bacaan:
Merry Magdalena. "Kaum Narsis: Bukan Pemimpin yang Baik." http://netsains.com/2008/10/kaum-narsis-bukan-pemimpin-yang-baik/
