"The Learning Leader"

Gaya kepemimpinan tranformasional

December 5, 2009

Baca dibaca!

 Memang gaya saya saja. Tapi paling tidak sekarang saya penjualnya. Saya menawarkan apa saja yang bisa saya bawa:

Bookmark and Share

Labels:

Gatutkaca Memburu Teroris

Dalang: Ki Sawali Tuhusetya
Suasana sidang kabinet di Balai Paseban Negeri Hastina terasa tegang dan panas. Berkali-kali Prabu Duryudana menggebrak meja. Sorot matanya liar.
“Bagaimana tanggung jawab Sampeyan, Mahapatih Sengkuni? Masak ngurus pekerjaan sepele saja nggak becus!” cerocos Suryudana dengan nada tinggi.
“Maaf, Nanda Prabu, jangan cepat main tuduh di tengah sidang yang mulia ini. Tanya juga Penasihat Durna yang menolak operasi militer di Plongkowati. Coba kalau siasat saya tidak dijegal, Wahyu Cakraningrat pasti sudah ada di tangan kita! Nah, itu artinya, Penasihat Durna juga punya andil besar di balik kegagalan misi ini!” sahut Sengkuni membela diri.
“Betul, Kanda Prabu! Bapa Durna tak ubahnya musuh dalam selimut! Secara lahiriah berada di pihak kita, tapi hati dan jiwanya ada di pihak Pendawa!” sergah Dursasana disahut dengan anggukan dan bisik-bisik riuh para petinggi Kurawa yang lain. Suasana sidang pun berubah gaduh.

Bookmark and Share

Labels: , , ,

December 4, 2009

Kritik Model “Wayang Slengekan”

Ketika saya memosting pernak-pernik seputar dunia “Wayang Slengekan” –kalau boleh saya menyebutnya demikian untuk menampilkan kesan nakal, mbeling, atau konyol– di blog ini, banyak respon menarik dari teman-teman bloger dan para pengunjung. Hal itu bisa dilihat dari beberapa komentar yang muncul. Sebagian besar mengikuti style postingannya yang kenes, mbeling, nakal, dan slengekan. Hal ini menandakan bahwa dunia pakeliran wayang belum mati. Apalagi, setelah jagad pakeliran wayang purwa sering digelar di beberapa stasiun TV. Makin banyak saja orang yang mulai melirik dunia wayang purwa. Sebagai hiburan sekaligus juga memenuhi rongga nurani dengan berbagai asupan dan “gizi batin” yang mencerahkan.
Nah, dalam “Wayangan Slengekan”, saya sengaja mengangkat isu-isu mutakhir yang dalam pakem pewayangan mustahil ditemukan. Di sini, saya bebas mengangkat beragam tema. Ada cinta, moral, ekonomi, demokrasi, hukum, nasib rakyat, arogani penguasa, bahkan juga persoalan-persoalan politik kontekstual. Dalam konteks demikian, saya bisa memiliki kesempatan secara imajinatif untuk memosisikan setiap tokoh dalam dunia pewayangan menjadi tokoh-tokoh riil yang ada dalam kehidupan kontemporer masa kini dengan menampilkan karakter tokoh mulai di tingkat grass-root hingga mereka yang berada dalam lingkaran elite kekuasaan. Dengan kata lain, raganya saya meminjam epos Mahabharata atau Ramayana, tetapi rohnya adalah karakter orang-orang yang ada di sekeliling kita.
Lantas, sebenarnya di manakah letak keunikan “wayang slengekan” ini? Sekadar latah, unjuk kekenesan, tumpahan rasa tidak puas terhadap situasi dan kondisi zaman, atau sikap frustrasi lantaran tidak ada media yang tepat untuk menumpahkan berbagai kritik? Wew… pertanyaan ini sebenarnya lebih layak dijawab oleh pembaca. Pembacalah yang pantas menilai kehadiran “wayang slengekan” di blog ini.
Meski demikian, secara pribadi, saya bermimpi untuk bisa menggapai dua fungsi substansial melalui “wayang slengekan” ini. Pertama, fungsi introduksi seni wayang kepada para pembaca. Kedua, fungsi kritik untuk menciptakan suasana keterbukaan di tengah mampatnya saluran kritik resmi, sehingga memicu munculnya media kritik alternatif. Ini artinya, “wayang slengekan” bisa saya jadikan sebagai “corong” untuk melontarkan kritik konstruktif secara tidak langsung dengan mengambil latar dunia pewayangan.
Jujur saja, saya sering mengalami kesulitan ketika meracik “wayang slengekan” ini kepada pembaca. Saya tidak cukup hanya membaca dan memahami lakon alias cerita dalam pakem pewayangan pada setiap momen dan peristiwa, tetapi juga harus banyak belajar bagaimana melontarkan seni kritik. “Kena iwake naging aja nganti buthek banyune” (Kena ikannya, tetapi tidak sampai membuat air jadi keruh). Dengan cara yang demikian itu, saya berharap “wayang slengekan” tidak akan terjebak pada situasi yang hanya sekadar mengumbar kritik, kenes, atau sekadar tumpahan rasa frustrasi terhadap kondisi zaman. Esensi “wayang slengekan”, dalam pandangan awam saya, memang sekadar “guyon pari kena”; mengkritik tanpa menyakiti, sehingga bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi pembaca. Nah, ternyata memang bukan persoalan yang gampang.
Menyimak beberapa lakon “wayang slengekan” yang tergelar di blog ini memang sangat berbeda dengan rubrik pewayangan yang sudah ada di beberapa media, apalagi jika harus dibandingkan dengan pakeliran wayang yang sesungguhnya. Di berbagai media, rubrik-rubrik dunia pewayangan dikemas dengan lebih menonjolkan penampilan nilai filosofis yang terkandung di balik setiap lakon. Alur cerita, gaya bahasa, atau substansi isi ceritanya masih “pakem minded“.
Nah, “wayang slengekan” memang saya harapkan *halah* tampil beda. Bahasanya dikemas santai, gado-gado, dan tidak baku dengan konteks kekinian. Pakem wayang menjadi urusan nomor dua. Saya lebih terfokus untuk memilih isu-isu hangat dan aktual yang tengah berkembang di tengah masyarakat, baru kemudian masuk ke dalam bingkai pakem. Sangat masuk akal jika di pentas “wayang slengekan” ini muncul tokoh presiden, jenderal, menteri, profesor, peneliti, selebritis, atau tokoh-tokoh muda yang dalam pentas kehidupan masyarakat memang memiliki peran dalam ikut berkiprah mengendalikan dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan desain “pakeliran” semacam itu, saya berharap “wayang slengekan” bisa membuka kemungkinan untuk menyuarakan kebebasan berpendapat atau melontarkan kritik dan opini, tanpa berpretensi untuk “menelanjangi” seseorang atau kelompok tertentu.
Selain itu, “wayang slengekan” juga ingin menaburkan “gosip” bahwa karakter orang semacam Sengkuni yang julig dan culas telah menjelma ke dalam sosok “Sengkuni-sengkuni” baru. Atau, bisa jadi sosok cendekiawan semacam Begawan Dorna yang rela “menjual” kebenaran demi kepentingan penguasa sudah bertaburan di sekeliling kita. Nah, bagaimana? ***

Sumber: http://sawali.info/2008/04/17/kritik-model-wayang-slengekan/
Bookmark and Share

Labels: ,

Duryodana: wikipedia

Duryodana (Sansekerta: दुर्योधन; Duryodhana) atau Suyodana adalah tokoh antagonis yang utama dalam wiracarita Mahabharata, musuh utama para Pandawa. Duryodana merupakan inkarnasi dari Iblis Kali. Ia lahir dari pasangan Dretarastra dan Gandari. Duryodana merupakan saudara yang tertua di antara seratus Korawa. Ia menjabat sebagai raja di Kerajaan Kuru dengan pusat pemerintahannya di Hastinapura.
Duryodana menikah dengan puteri Prabu Salya dan mempunyai putera bernama Laksmana (Laksmanakumara). Duryodana digambarkan sangat licik dan kejam, meski berwatak jujur, ia mudah terpengaruh hasutan karena tidak berpikir panjang dan terbiasa dimanja oleh kedua orangtuanya. Karena hasutan Sangkuni, yaitu pamannya yag licik dan berlidah tajam, ia dan saudara-saudaranya senang memulai pertengkaran dengan pihak Pandawa. Dalam perang Bharatayuddha, bendera keagungannya berlambang ular kobra. Ia dikalahkan oleh Bima pada pertempuran di hari kedelapan belas karena pahanya dipukul dengan gada.

Bookmark and Share

Labels: ,

Sangkuni: wikipedia

Sangkuni, atau yang dalam ejaan Sanskerta disebut Shakuni (: शकुनि ; śakuni) adalah seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan paman para Korawa dari pihak ibu. Sangkuni terkenal sebagai tokoh licik yang selalu menghasut para Korawa agar memusuhi Pandawa. Antara lain, ia berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui sebuah permainan dadu.
Dalam pewayangan Jawa, Sangkuni sering dieja dengan nama Sengkuni. ketika para Korawa berkuasa di Kerajaan Hastina, ia diangkat sebagai patih. Dalam pewayangan Sunda, ia juga dikenal dengan nama Sangkuning.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Sangkuni

Bookmark and Share

Labels: , ,

Sengkuni Leda-lede

Ini satu lagi dagangan yang serius banget. Hip-hop Jowo. Kompas, di sekitar-sekitar perayaan Urban Fest di Ancol kemarin, kalau tak salah, pernah memberitakannya. Katanya, para penggagasnya (wong Yogya?), hendak menggabungkan puisi, bahkan juga serat Cintini, dengan hip-hop.
Tapi, bahwa hasilnya bisa sedahsyat itu, ini yang mencengangkan. Benar-benar mengundang keplok. Beda jauh banget, misalnya, jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan Djaduk Ferianto dkk yang terkesan banyak cengengesannya itu.
Mungkin begitulah pop. Orang kementus boleh saja bilang, tak ada yang baru di situ. Biarkan saja. Yang jelas, di pop ada gelegak kreativitas. Mau dibilang baru atau lama, terserah. Yang penting ini: to create. Dan itu menembus batas. Semua yang mungkin menjadi lebih mungkin lagi. Tak peduli itu indie atau major label.
Contoh paling gres ya “hip-hop Jowo” itu. Saya sendiri baru dengar dari radio. Prambos Yogya sering memutarnya. Salah satu nomor asyik, saya lupa entah judul apa, tapi yang jelas, liriknya ada Sengkuni-nya segala. Unik. Mendut-mendut. Laik untuk kesehatan kuping agar tak hanya dipasok (rock) yang itu-itu melulu.
Sengkuni leda-lede. Melu baris ngarep dhewe. Barisane menggok. Sengkuni malah ndheprok.
Kabarnya, mereka, “hip-hop Jowo” ini, sudah merilis 2 album kompilasi. Dan dalam waktu dekat ini akan keluar album ke-3nya. Benar? Di Jakarta, album-albumnya didagangkan di mana saja yak?

 http://semprulsontoloyo.com/2008/11/21/hip-hop-jowo-sengkuni-leda-lede/

Bookmark and Share

Labels: , ,

Bangkai Sengkuni

BENCANA tanah longsor itu benar-benar dahsyat. Mengubur lebih dari seratus rumah, sebagian besar berupa vila pribadi, losmen dan hotel kelas melati. Tidak ada yang tersisa kecuali puing-puing bangunan dan batang-batang pohon yang centang perentang melintang dijepit bebatuan besar dan kecil. Peristiwa memilukan yang tak pernah diramal orang. Hanya diguyur hujan deras semalam perbukitan yang selama ini dijadikan tempat wisata rontok dalam waktu sekejap. Bebatuan dan pasir yang ada di dalamnya seperti digelontor air bah maha dahsyat. Meluncur tak terkendali menghantam pepohonan, menggasak rumah dan mengubur semua yang dilewati.

Dari laporan terakhir para petugas penyelamat di lapangan sudah ditemukan seratus limabelas mayat. Jumlah itu mendekati angka resmi dari laporan para keluarga yang merasa kehilangan sanak saudaranya.Semua orang yang melihat musibah itu meneteskan air mata. Juga sebagian besar mereka yang melihat dalam tayangan televisi. Mereka gambar rekaman mayat-mayat yang tidak utuh lagi. Kepala terlepas, kaki putus, sepotong tangan terjepit batu, bagian rongga perut yang terobek dan terisi bongkahan batu. Sebagian orang menyamakan musibah itu seperti akhir perang Baratayudha di Padang Kuru. Mayat-mayat bergelimpangan, membusuk, sebagian dimakan binatang-binatang buas pemakan bangkai, sebagian dipatuki burung-burung liar pemakan bangkai juga.

Atas saran Pak Gubernur potongan-potongan mayat itu dikubur secara massal. Sepuluh hari setelah musibah pencarian mayat dihentikan. Karena jumlah mayat yang sudah ditemukan dianggap cukup. Jika ada yang tertinggal dan masih berada di bawah reruntuhan, maka mereka dianggap dikubur di situ. Sebab daerah bencana itu akan ditutup untuk pemukiman selama-lamanya. Malah ada yang usul agar dijadikan monumen hidup tentang bencana tanah longsor.

Hari itu para petugas penyelamat lapangan tinggal membersihkan reruntuhan yang menutupi badan jalan. Agar warga masyarakat di balik perbukitan itu tidak terisolir, maka satu-satunya jalan penghubung harus dibuka kembali.Sebuah buldozer baru saja menyingkirkan batu sebesar kerbau yang melintang di tengah jalan ketika tiba-tiba dari bawah batu itu tampak telapak tangan bergerak-gerak. Mereka yang melihat kaget. Bagaimana mungkin orang tertindih baru sebesar itu masih hidup. Makin lama telapak tangan tadi makin menyembul, lalu tampak pergelangan tangan. Tangan itu menggapai-gapai seperti meminta pertolongan.‘’Masih hidup! Masih hidup!’’ teriak beberapa orang sekaligus. Suara mereka gemetar karena campur rasa takut yang sangat.‘’Apa benar dia masih hidup?’’ tanya yang lain ragu-ragu.‘’Masih, masih.’’Mereka yang mendengar lalu merubung tangan yang terus menggapai-gapai itu. Namun tak seorang pun berani mendekat dan memberi pertolongan.

Tetapi tidak lama kemudian dari balik lumpur nongol sebuah kepala yang tidak utuh lagi. Meski begitu wajahnya bisa dikenali. Setelah kepala, tubuh orang itu mulai terangkat. Dengan susah payah itu berusaha untuk berdiri. Tubuh itu tidak lengkap, karena hanya memiliki sebelah tangan. Kedua kakinya pun nyaris buntung, hanya sebatas lutut. Meski begitu ia tetap berusaha untuk berdiri tegak.‘’Siapa kamu?’’ tanya seorang petugas dengan suara serak. Pelan-pelan ia maju, lalu mengguyur kepala orang yang tidak utuh itu dengan seember air. Kepala itu seperti ingin menggerakkan mulutnya. ‘’Siapa kamu”” tanya petugas tadi.‘’Wajahnya kok mirip Sengkuni, patih Astina,’’ bisik beberapa orang sekaligus.Kepala itu mengangguk-angguk. ‘’Ya, akulah Patih Sengkuni,’’ katanya dengan susah payah. Sebab tampak bahwa mulutnya sudah robek sampai mendekati leher.‘’Patih Sengkuni?’’ tanya beberapa orang serempak.‘’Ya, akulah orangnya,’’ jawab orang itu.

Darah segar muncrat dari mulutnya yang sudah tidak utuh lagi.‘’Mengapa kamu bisa ikut tertimbun tanah longsor? Bukankah di perang Baratayudha Bima telah merobek-robek tubuhmu, lalu potongan tubuhmu dibuang ke segala penjuru bumi?’’Orang yang mengaku sebagai Patih Sengkuni itu mengangguk-angguk. ‘’Tubuhku memang telah dicerai-beraikan oleh Bima gendheng itu. Tapi ingat, tubuhku tidak bisa membusuk dan menyatu dengan tanah. Dibawa oleh angin dan zaman, cuilan-cuilan tubuhku bisa tersatu lagi. Lalu diam-diam aku tinggal di Negeri Garong ini.’’‘’Negeri Garong? Negerinya siapa itu?’’ tanya seorang anggota tim SAR penasaran.‘’Negeri kalian semua. Kalian kira negeri ini dipimpin oleh malaikat? Harap tahu, dari pusat sampai daerah, kalian dipimpin oleh para garong. Mereka diawasi oleh para kecu, dilindungi oleh para benggol maling. Tiap hari yang mereka pikirkan hanya satu: menggarong harta negeri ini sebanyak-banyaknya. Menindas dan menginjak kalian sampai tak berdaya. Memeras kalian sampai kalian tak punya apa-apa lagi kecuali tanggungan utang setinggi gunung.’’Orang-orang yang merubung saling pandang satu dengan yang lain.

Mereka seolah tidak percaya dengan omongan orang yang mengaku sebagai Patih Sengkuni itu. Di mata mereka, orang itu sebenarnya sudah layak disebut bangkai. Sebab sudah terkubur selama tujuh hari, anggota tubuhnya rompal di sana-sini, kepalanya nyaris tinggal separo. Tapi yang membuat mereka heran, orang itu ternyata masih bisa berdiri tegak dan berbicara dengan suara lantang.‘’Dengarkan, dengarkan,’’ kata orang itu lagi sambil berusaha tegak berdiri dengan gagah. ‘’Aku akan nembang macapat. Tembangku Pangkur Palaran. Apakah kalian mau mendengarkan?’’‘’Mau, mau!’’ jawab mereka serempak.

Operasi pencarian korban dihentikan. Alat-alat berat seperti buldozer diistirahatkan. Semua petugas penyelamat lapangan ditambah mereka yang datang sekadar hanya ingin melihat musibah itu merubung orang yang mengaku sebagai Patih Sengkuni. Kerumunan itu makin lama makin banyak.‘’Akulah Patih Sengkuni, saksi zaman. Dari abad-abad gelap aku hidup, dan tak pernah mati. Kusaksikan penguasa-penguasa rakus. Kulihat penguasa-penguasa kejam. Mereka merampok negerinya sendiri. Mereka menyiksa dan membunuh rakyatnya. Mereka memakan bangkai rakyatnya dengan lahap.

Kekuasaan di tangan si bodoh menjadi pedang. Jabatan ditangan si rakus menjadi jumbleng. Tidak ada welas asih, tidak ada kaca benggala. Semua penguasa sudah jadi raksasa. Beragama tapi tidak kenal Sang Hyang Widi. Perut mereka jadi jugangan. Semua barang dimakan. Bau mulut mereka busuk. Sinar mata mereka keruh. Karena hati dan jiwanya sehitam langes.

Mengapa dulu ada perang Baratayudha. Karena untuk membersihkan penguasa-penguasa garong. Kekuasaan dikembalikan kepada Si Arif Bijaksana. Tetapi negeri ini telanjur dibangun dengan semangat garong. Melahirkan anak-cucu garong dan kecu. Begal maling gentho dan cenguk, duduk di kursi goyang. Tangan, kaki dan mulut mereka berlumur darah. Karena tiap saat makan bangkai mereka yang kecil, lemah, miskin dan terpinggirkan. Untuk membasmi garong, kecu, begal maling, gentho dan cenguk, kobarkan perang Baratayudha. Tumpes tapis mereka. Jangan beri ampun. Jika itu berhasil, negeri ini akan makmur. Bukan lagi Negeri Garong. Tetapi Negeri Makmur.’’‘’Provokator! Provokator!’’ teriak lima aparat berseragam gelap.

Mereka lalu memberondongkan peluru dari senapan otomatis di tangannya ke arah orang yang mengaku sebagai Patih Sengkuni itu. ‘’Kamu harus mampus!’’Terjangan puluhan peluru itu tidak membuat tubuh orang tadi roboh. Peluru-peluru itu hanya mampu mencabik-cabik sisa-sisa daging yang masih menempel. Orang itu malah tertawa terkekeh-kekeh. Darah segar kembali muncrat dari mulutnya.‘’Kau mau apa? Mau membunuhku, silakan. Habiskan peluru kalian!’’ tantangnya kemudian. Kembali lima senapan otomatis menyalak dan menyemburkan puluhan peluru tajam. Namun orang itu tetap tak bergeming. ‘’Apa pun yang akan kalian lakukan, ingat-ingat ini, aku tidak bisa mati. Karena akulah kekuasaan busuk yang tadi kukutuk sendiri. Anak cucuku telah menguasai negeri ini dengan sempurna. Merekalah penguasa-penguasa busuk, hakim-hakim busuk, jaksa-jaksa busuk, penegak hukum busuk, pejabat busuk, pegawai busuk, aparat keamanan busuk, garong dan maling busuk. Heh-hehh aku menyesal telah memperanak-pinak mereka. Karena itu aku akan mengutuknya. Aku akan mengutuk penguasa-penguasa busuk!’’‘’Seret provokator busuk itu!’’ perintah seseorang dengan suara lantang.

Lima orang maju lalu dengan kasar dan bengis menyeret tubuh orang yang sudah tidak lengkap itu. Dengan cepat mereka memasukkan tubuh itu ke dalam karung plastik ukuran besar.‘’Hei, kalian lihat sendiri, aku akan dijadikan tumbal negeri ini. Tubuhku akan dimasak, lalu nanti akan dijadikan hidangan istimewa dalam suatu pesta oleh para garong, kecu, maling dan gentho. Dengan memakan dagingku, mereka berharap, hidup mereka tidak berakhir tragis seperti diriku. Lihat saja, apa yang akan terjadi besok pagi!’’ teriak orang tadi yang sudah ada di dalam karung.Esok harinya semua koran, radio, televisi dan semua sumber berita negeri ini mewartakan kabar yang sama: semua pejabat dari pusat sampai daerah, dari tingkat eselon tinggi sampai yang paling rendah, semua masuk rumah sakit. Menurut diagnose dokter, mereka semua keracunan daging bangkai!

Sumber: http://www.sriti.com/story_view.php?key=421
***Dayu, Februari 2003.

Bookmark and Share

Labels: , ,

Sengkuni

Sengkuni or Harya Sakuni, his name as a youth was Harya Suman, a knight from a smaller kingdom of Plasajenar, the younger brother of Dewi Genpari, the wife of Destarata. He was smart and cunning, his mind was full with dirty tricks.

Prince Harya Suman wished to take by force Dewi Kunti from the hands of Pandu. A fight broke, but Suman’s ability of fight was nothing compared to Pandu’s. As a punishment, Pandu buried Suman’s body, only his head appeared above the land. Suman was frightened to die, he was crying and asked forgiveness. He said that if he was freed from the punishment, he would give his sister to Pandu and he would serve him.
Pandu agreed but he gave Gendari to his elder blind brother Destarata. Gendari was feeling insulted but she could not do anything. She vowed to herself that her children won’t have any good relation with Pandu’s children. A vow came true, mostly due to the help of Sengkuni.

He followed his sister and lived in Hastinapura. Since the first day in Hastinapura, he eyed the position of Patih/Prime Minister. He was very jealous to Gandamana, the Patih to Hastinapura. He tried to find a way to oust Gandamana. Cunningly, he could trap Gandamana to be ambushed by many giants.

Gandamana felt down to a deep hole. Instead of helping Gandamana, Sengkuni buried him alive in the hole, Then Sengkuni reported hastily to king Pandu that Gandamana was killed by an army of giants.

Gandamana, using his supernatural power, Bandung Bondowoso could come out safely. He knew who did it to him. Sengkuni was beaten severely by Gandamana until he losed his charm permanently. As a gentleman, Gandamana reported the case to king Pandu. He admitted his mistake for the merciless beating of Sengkuni. King Pandu released Gandamana’s position as Patih and he went back to his country.

After Gandamana’s departure, using the influence of Gendari and Destarata, King Pandu assigned him as the new Patih of Hastinapura. A position he held until his death in Baratayuda. He served king Pandu very shortly, until Pandu’s death. Then he served the new rulers, Destarata and Duryudana.

As a Patih to Destarata and Duryudana, he served his masters so smartly, to the complete satisfaction of his maters, no matter what he had to do. In order to keep his lust of power in the palace and his greediness in material wealth, he did many tricky dangerous actions to eliminate Pendawa. Serving the greedy King Duryudana, Sengkuni became the trickiest figure in wayang.

If Kresna was a famous Diplomat for truth and justice, Sengkuni was a Diplomat serving for dirty accomplishments. Besides Duryudana and Korawa, he was the one who pushed Baratayuda to happened.
By chance, Sengkuni had also an invulnerability to sharp weapons. One day Sang Hyang Tunggal, the father of Betara Guru sent Lenga Tawa, oil with supernatural power to King Pandu. By rubbing the oil the body, the parts of the body should be invulnerable to sharp weapons.

But King Pandu was just passed away. To be fair, Begawan Abiyasa, Pandu’s father and the grand-father of Pendawa and Korawa had decided the use the oil for his grand-children, witnessed by Hastinapura dignitaries, such as Kunti, Destarata and wife, Bisma, Sengkuni etc. Korawa, the elder grand children, got their first turn.
They made a queue starting from Duryudana and so on. But they could not put in order. They pushed one another. Some of the oil of Tawa, held by Abiyasa, spilled out to the flour. Sengkuni quickly rolled his body on the floor.
Kunti who was standing nearby Abiyasa, felt down to the floor. Sengkuni did not miss the chance for his desire to touch Kunti. Immediately, pretending to help Kunti, he grabbed her breast. Kunti was shock and ashamed. She vowed that she would never wear breast-cloth, if not made from Sengkuni’ skin.

Sengkuni had twice masterminded Pendawa’s expulsion. Firstly in the accident of Bale’ Sigalagala and secondly when Pendawa lost of dice-gambling. (See. Mahabarata and Baratayuda). In Baratayuda, the slanderous and tricky Sengkuni was executed by Bima. Bima knew very well, the weakest part of Sengkuni’s body, his mouth and his anus. Bima stabbed deeply those parts with his kuku Pancanaka (long finger nails in his thumbs of both hand). He tore Sengkuni’s mouth to pieces and then peeled his skin fulfilling Kunti’s wish. Sengkuni died in agony.
In Javanese traditional teachings (Kejawen), the death of Sengkuni symbolizing the annihilation of dirty minds, which is a pre-requisite to pursue the true life.

Source: Joglo Semar
Suryo S. Negoro

Bookmark and Share

Labels: , ,

Sengkuni ingin jadi raja

Dalam dunia pewayangan lakon sengkuni ingin jadi raja itu belum pernah ada, apalagi sampai sengkuni jadi raja, baru ingin saja belum pernah terjadi. Paling tidak itulah yang saya tahu tentang pewayangan yang dulu ketika saya masih kecil suka sekali nonton wayang bersama teman-teman.
Sebelum melangkah lebih jauh tentang tulisan ini, mungkin ada sebagian dari pembaca belum tahu siapakan Sengkuni itu, dan saya sebenarnya juga sudah lupa secara detail tentang si Sengkuni ini, hanya ingat sedikit saja tentang identitas si Sengkuni ini. Sengkuni adalah maha patih dari kerajaan besar Astino Puro di bawah pimpinan Raja bernama Deryudono.
Sengkuni adalah simbul kelicikan yang dalam sepak-terjangnya sering sekali melakukan tindakan yang sebenarnya sangat berseberangan dengan kebijakan rajanya, dengan kelicikan dan kepiawaiannya berargumentasi untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negaranya serta sedikit pengetahuannya tentang bidang sosial kemasayarakatan dan ekonomi bisa menyakinkan Rajanya, sehingga keputusan-keputusan kenegaraan yang menyangkut tentang sosial kemasayarakatan & ekonomi kebanyakan diambil dari hasil kebijakan sang maha patih Sengkuni yang licik ini. Padahal sebenarnya kebijakan-kebijakan itu keluar ada maksud-maksud untuk mengamankan kepentingan sang patih. Secara sosial kemasyarakatan untuk melanggengkan kekuasaan, sedangkan untuk masalah-masalah ekonomi agar dapat memberikan peluang usaha beserta kroninya.
Sangat tidak lazim dan menyalahi pakem bila seorang Sengkuni ingin jadi Raja, karena disamping tidak ada trah dan nasabnya, Sengkuni juga bukan merupakan penduduk asli kelahiran tanah negri Astino Puro yang sebenarnya. Bisa menjadi wakil presdien Astino Puro karena terjadinya kerusuan sosial (caos) di Astino Puro, dengan kelicikannya dia bisa merangkul berbagai tokoh muda Astino Puro, ditambah dengan modal awal dia dari putra seorang saudagar kaya dari negeri seberang sehingga dia bisa leluasa berbuat dengan dukungan pendanaan yang cukup memadai.
Rupanya abad mutakhir ini banyak sekali Sengkuni telah bersembiose dengan organisasi sosial kemasyarakatan dan organisasi politik dan telah bermetamorfosa menjadi tokoh pada kedua organisasi tersebut untuk menggapai yang lebih tinggi dari tokoh Sengkuni yang sebenarnya yang hanya menjadi patih, untuk bisa menjadi Raja (Presiden).
Untuk menggapai tujuan menjadi Raja tersebut, sengkuni abad mutakhir ini telah melangkah dan menyiapkan strategi untuk menghadapi perang tanding dalam era demokrasi yang memungkinkan seorang patih bisa menjadi Raja, sebab kalau di zaman monarki dulu sengkuni tidak akan mungkin bisa menjadi raja kecuali mampu melakukan merubah wujud aslinya menjadi wujud sang Raja.
Strategi perang tanding dalam pertarungan demokrasi yang akan dilakukan dengan cara lobi-lobi dengan melakukan politik dagang sapi dan menebar janji-janji serta menggalang kualisi untuk mencapai puncak pimpinan negeri ini.
Apakah strategi Sengkuni ini akam mampu memenangkan perang tanding demokrasi ini, tentu hanya Alloh SWT yang mengetahui kepastiannya, walaupun kualisi yang berhasil dibangun menjadi kualisi besar sekalipun, namun bila Alloh SWT tidak menghendaki pasti tidak akan terjadi.
Bila kita kembali pada judul “Sengkuni Ingin Jadi Raja” itu menyalahi pakem dan itu tidak ada pada lokan wayang manapun maka pertarungan demokrasi yang akan terjadi itu tidak ubahnya seperti “perang bolo” yaitu perangnya tokoh kesatria dalam cerita yang berperang melawan beberapa pelaku pendukung tokoh angkara murka atau “perang kembang” yaitu perangnya tokoh kebenaran dan kesabaran melawan ketidak benaran, bisanya dilambangkan dengan perang cakil. Dalam pewayangan kedua perang itu merupakan perang yang berfungsi untuk menarik publik untuk merapat kepangung, sedang siapa pemenangnya sudah bisa ditebak.

Sumber: http://infotechpersada.com/sakinah/?p=1509

Bookmark and Share

Labels: , ,