Sengkuni ingin jadi raja
Dalam dunia pewayangan lakon sengkuni ingin jadi raja itu belum pernah ada, apalagi sampai sengkuni jadi raja, baru ingin saja belum pernah terjadi. Paling tidak itulah yang saya tahu tentang pewayangan yang dulu ketika saya masih kecil suka sekali nonton wayang bersama teman-teman.
Sebelum melangkah lebih jauh tentang tulisan ini, mungkin ada sebagian dari pembaca belum tahu siapakan Sengkuni itu, dan saya sebenarnya juga sudah lupa secara detail tentang si Sengkuni ini, hanya ingat sedikit saja tentang identitas si Sengkuni ini. Sengkuni adalah maha patih dari kerajaan besar Astino Puro di bawah pimpinan Raja bernama Deryudono.
Sengkuni adalah simbul kelicikan yang dalam sepak-terjangnya sering sekali melakukan tindakan yang sebenarnya sangat berseberangan dengan kebijakan rajanya, dengan kelicikan dan kepiawaiannya berargumentasi untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negaranya serta sedikit pengetahuannya tentang bidang sosial kemasayarakatan dan ekonomi bisa menyakinkan Rajanya, sehingga keputusan-keputusan kenegaraan yang menyangkut tentang sosial kemasayarakatan & ekonomi kebanyakan diambil dari hasil kebijakan sang maha patih Sengkuni yang licik ini. Padahal sebenarnya kebijakan-kebijakan itu keluar ada maksud-maksud untuk mengamankan kepentingan sang patih. Secara sosial kemasyarakatan untuk melanggengkan kekuasaan, sedangkan untuk masalah-masalah ekonomi agar dapat memberikan peluang usaha beserta kroninya.
Sangat tidak lazim dan menyalahi pakem bila seorang Sengkuni ingin jadi Raja, karena disamping tidak ada trah dan nasabnya, Sengkuni juga bukan merupakan penduduk asli kelahiran tanah negri Astino Puro yang sebenarnya. Bisa menjadi wakil presdien Astino Puro karena terjadinya kerusuan sosial (caos) di Astino Puro, dengan kelicikannya dia bisa merangkul berbagai tokoh muda Astino Puro, ditambah dengan modal awal dia dari putra seorang saudagar kaya dari negeri seberang sehingga dia bisa leluasa berbuat dengan dukungan pendanaan yang cukup memadai.
Rupanya abad mutakhir ini banyak sekali Sengkuni telah bersembiose dengan organisasi sosial kemasyarakatan dan organisasi politik dan telah bermetamorfosa menjadi tokoh pada kedua organisasi tersebut untuk menggapai yang lebih tinggi dari tokoh Sengkuni yang sebenarnya yang hanya menjadi patih, untuk bisa menjadi Raja (Presiden).
Untuk menggapai tujuan menjadi Raja tersebut, sengkuni abad mutakhir ini telah melangkah dan menyiapkan strategi untuk menghadapi perang tanding dalam era demokrasi yang memungkinkan seorang patih bisa menjadi Raja, sebab kalau di zaman monarki dulu sengkuni tidak akan mungkin bisa menjadi raja kecuali mampu melakukan merubah wujud aslinya menjadi wujud sang Raja.
Strategi perang tanding dalam pertarungan demokrasi yang akan dilakukan dengan cara lobi-lobi dengan melakukan politik dagang sapi dan menebar janji-janji serta menggalang kualisi untuk mencapai puncak pimpinan negeri ini.
Apakah strategi Sengkuni ini akam mampu memenangkan perang tanding demokrasi ini, tentu hanya Alloh SWT yang mengetahui kepastiannya, walaupun kualisi yang berhasil dibangun menjadi kualisi besar sekalipun, namun bila Alloh SWT tidak menghendaki pasti tidak akan terjadi.
Bila kita kembali pada judul “Sengkuni Ingin Jadi Raja” itu menyalahi pakem dan itu tidak ada pada lokan wayang manapun maka pertarungan demokrasi yang akan terjadi itu tidak ubahnya seperti “perang bolo” yaitu perangnya tokoh kesatria dalam cerita yang berperang melawan beberapa pelaku pendukung tokoh angkara murka atau “perang kembang” yaitu perangnya tokoh kebenaran dan kesabaran melawan ketidak benaran, bisanya dilambangkan dengan perang cakil. Dalam pewayangan kedua perang itu merupakan perang yang berfungsi untuk menarik publik untuk merapat kepangung, sedang siapa pemenangnya sudah bisa ditebak.
Sumber: http://infotechpersada.com/sakinah/?p=1509
Labels: konflik, profil pemimpin, sengkuni

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home